On 11:40 AM by pepen supendie
SMK Bina Siswa 1 Gununghal : Akan melaksanakan Ujian Sekolah Teori pada tanggal 17-22 Maret 2014 mengacu pada Juklak dan Juknis pelaksanaan Ujian Sekolah, kepada siswa kelas XII untuk berkonsentrasi pada kegiatan Ujian Sekolah dan kepada orang tua dimohon untuk membimbing putra-putrinya agar fokus dalam belajar di rumah.
Informasi seputar Ujian Sekolah :
Informasi seputar Ujian Sekolah :
On 9:28 AM by pepen supendie
Dalam rangka menghadapi implementasi pelaksanaan kurikulum 2013 yang
akan diterapkan pada tahun pelajaran 2014/2015, pada hari Kamis (13/03/2014) bertempat Vila Ceremai Padalarang pukul 10.00 WIB
diselenggarakan acara sosialisasi tentang kurikulum 2013. Kegiatan
sosialisasi ini menghadirkan
narasumber langsung dari Provinsi Jawa Barat yang di hadiri oleh pemangku kepentingan pimpinan Yayasan LPPM-RI dan tenaga pengajar.
Selanjutnya adalah bagaimana batang tubuh Kurikulum 2013 yang sudah dipersiapkan selama ini. Perbedaan mencolok dari Kurikulum KTSP 2006 adalah adanya upaya memasukkan nilai-nilai religiusitas dan nilai-nilai sosial ke dalam semua mata pelajaran. Upaya yang bagus yang menginginkan agar siswa/peserta didik kita dalam proses belajar mengajar di kelas diarahkan menjadi orang yang ber spiritualitas tinggi.
Selanjutnya adalah bagaimana batang tubuh Kurikulum 2013 yang sudah dipersiapkan selama ini. Perbedaan mencolok dari Kurikulum KTSP 2006 adalah adanya upaya memasukkan nilai-nilai religiusitas dan nilai-nilai sosial ke dalam semua mata pelajaran. Upaya yang bagus yang menginginkan agar siswa/peserta didik kita dalam proses belajar mengajar di kelas diarahkan menjadi orang yang ber spiritualitas tinggi.
On 11:21 AM by pepen supendie
SMK Bina Siswa 1 Gununghalu hari ini tanggal 06 Maret 2014 melaksanakan pencairan yang mendapatkan bantuan Siswa Miskin dari Program KPS dan Non KPS yang diperuntukan bagi kelas X, XI dan XII.
Pencairan ini bekerja sama dengan BANK Jabar Padalarang yang langsung mendatangi sekolah, ini merupakan kinerja yang sangat baik dari pihak Bank yang telah mengakomodasi permintaan dari Sekolah untuk pembuatan rekening di sekolah masing-masing, hal ini dapat meringankan beban dari orang tua siswa yang mendapatkan bantuan tersebut.
Kepala SMK Bina Siswa 1 Gununghal Adang Cucu Cahyana, S.Pd menyatakan bahwa ini merupakan kewajiban dari pihak Bank untuk lebih dekat dengan masyarakat dan mengetahui kondisi geografis penduduka yang ada di wilayah Kecamatan Gununghalu yang merupakan Kecamatan ujung dari Kabupaten Bandung Barat, kami sangat mengapresiasi dengan datangnya pihak Bank Jabar ke sekolah masing-masing.
Besaran bantuan ini variatif sesuai dengan grade / kelas, contohnya kelas X mendapatkan bantuan sebesar Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah) kelas XI dan XII mendapat bantuan sebesar Rp. 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah. Bantuan ini diperuntukan untuk seragam sekolah, transportasi siswa dan alat tulis sekolah.
Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringkankan beban keuangan orang tua siswa khususnya yang ada di SMK Bina Siswa 1 Gununghalu.
On 1:15 PM by pepen supendie
Menyembunyikan File Di dalam Gambar. Pernahkah kamu merasa tidak aman akan keberadaan file/data anda? Apalagi file tersebut disimpan pada satu komputer yang dipakai secara bersama-sama. Khawatir akan file rahasia yang anda simpan akan di lihat orang atau diambil orang. Banyak cara untuk menjaga keamanan file yang anda punya, salah satunya menggunakan aplikasi proteksi yang banyak ditemukan di internet. Namun, kali ini saya mempunyai cara yang unik dan ampuh untuk menyembunyikan file/data rahasia anda, dengan cara memanipulasi seakan file anda berada di dalam sebuah file yang berformat gambar (.jpeg, .gif, .png, Dll). Sesuai dengan penjelasan diatas kita berikan judul artikel ini Menyembunyikan File Di dalam Gambar. Syarat yang pertama untuk melakukan hal ini yaitu komputer anda harus sudah terinstall winrar. 1. Nah untuk langkah pertama yang akan kita lakukan adalah menampilkan semua ekstensi file *. pada windows dengan cara menyetting konfigurasi Folder Option (Seperti terlihat pada gambar). Pada Tab View - Hilangkan tanda centang pada Hide extensions for known files type 2. Siapkan file gambar anda dengan format extensi file gambar seperti jpg, png, gif (Pilih salah satu) dan siapkan file rahasia anda dengan ektensi apa saja (Bebas). Untuk lebih mudah untuk memahaminya, disini saya mengambil contoh : untuk file rahasia, saya beri nama "Rahasia.exe" dan untuk file gambarnya saya beri nama "gambar.jpg". Kemudian jangan lupa untuk meletakan file rahasia dan file gambar dalam satu folder yang sama. 3. Langkah selanjutnya klik kanan pada "Rahasia.exe" lalu pilih menu Add to "Rahasia.rar", yang berarti kita membuat file baru dengan extensi .rar. Terlihat File Baru dengan format .rar 4. Setelah itu kita akan membuat script untuk menyembunyikan file rahasia tersebut kedalam gambar. Sekarang buka aplikasi notepad bawaan windows dengan cara klik run > ketik NOTEPAD. Lalu ketiikan/copy script berikut ini : @echo off ren Rahasia.rar Rahasia.exe.rar copy /b gambar.jpg+Rahasia.exe.rar hasil.gif del Rahasia.exe del Rahasia.exe.rar del gambar.jpg del hide.bat Catatan : Penamaan File & gambar Harus Sama dengan script yang anda buat. Setelah itu save as script tersebut dan beri nama rahasia.bat, Setelah itu eksekusi (run) file bat tersebut dengan cara klik 2 kali pada file bat tersebut.File telah berhasil kita sembunyikan didalam gambar. Nah, untuk mengambil kembali file yang kita sembunyikan caranya dengan mengekstraknya kembali file tersebut, dengan cara klik kanan pada gambar, pilih ekstrak files, seperti file .rar pada umumnya, setelah itu file sudah dapat ditemukan kembali. Selesai untuk artikel Menyembunyikan File Di dalam Gambar dan mudah-mudahan sangat berguna yah. Terima Kasih.
On 1:03 PM by pepen supendie
UNTUK MENJAGA DAN MENINGKATKAN KUALITAS PROGRAM, KINERJA GURU KAMI MELAKUKAN EVALUASI GURU DAN STAFF YANG DILAKSANAKAN MULAI PEBRUARI 2014
Terdapat berbagai pendapat mengenai pengertian evaluasi yang dikemukakan oleh pakar ataupun lembaga evaluasi, antara lain dari Popham yang menyatakan bahwa evaluasi adalah proses pencarian, pengumpulan dan pengambilan data (informasi) yang diperlukan untuk memberikan pertimbangan apakah program yang sedang berjalan perlu diperbaiki, dihentikan dan diteruskan. Evaluasi merupakan suatu proses sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan program dengan kriteria tertentu untuk keperluan pembuatan keputusan.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program (sekolah/instansi atau lembaga) mencapai sasaran yang diharapkan. Evaluasi menekankan pada aspek hasil (output). Konsekuaensinya, evaluasi baru dapat dilakukan jika suatu program sudah berjalan dalam satu periode, sesuai dengan tahapan sasaran yang dirancang. Misalnya untuk satu tahun pelajaran, satu catur wulan atau satu semester. Sejalan dengan pengertian dan tujuan evaluasi yang dikemukakan diatas, Groundlund menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk mengumpulkan informasi secara sistematik, obyektif, dan terstruktur untuk memberikan keputusan terhadap sesuatu objek. Pendapat tersebut selanjutnya dipertegas oleh Djaali dkk, yang mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menilai sesuatu berdasarkan criteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievalusai.
Karena evaluasi merupakan proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis yang diperlukan dalam rangka pengambilan keputusan, maka dikatakan bahwa evaluasi selalu berhubungan dengan pengambilan keputusan. Hasil evaluasi merupakan suatu landasan untuk menilai suatu program untuk memutuskan apakah program tersebut dapat diteruskan atau masih perlu diperbaiki lagi. Untuk membuat keputusan tersebut, diperlukan informasi yang valid dan reliable.
Evaluasi merupakan penentuan kelayakan sesuatu yang meliputi perolehan informasi untuk digunakan dalam menilai kelayakan suatu program, produk, prosedur, tujuan, atau pendekatan-pendekatan alternative potensial yang didesain untuk mencapai tujuan khusus. Evaluasi juga memberi penilaian terhadap tingkah laku, bakat, minat, dan kepribadian warga belajar. Dalam penilaian selalu terjadi lebih dulu dari pengukuran. Pengukuran untuk menentukan jumlah atau kuantitas, sedangkan penilaian untuk menentukan mutu dan kualitas.
On 12:41 PM by pepen supendie
Guru Sebagai Agen Pembelajaran - Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) Pasal 28, dikemukakan bahwa: “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Selanjutnya dalam penjelasannya dikemukakan bahwa: “yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”.
Sukar untuk menentukan sebenarnya guru yang baik. Walaupun demikian dapat juga diberikan beberapa prinsip yang berlaku umum untuk semua guru yang baik, adalah:
1. Guru yang baik memahami dan menghormati murid.
2. Memahami bahan pelajaran yang diberikannya.
3. Memilih metode yang sesuai.
4. Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan murid.
5. Mengaktif murid dalam hal belajar.
6. Memberikan pengertian
7. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid.
8. Memiliki tujuan tertentu dari setiap pelajaran.
9. Tidak terikat dengan satu buku teks.
10. Tidak menyampaikan pengetahuan saja tapi berusaha membentuk kepribadian anak.
A. Guru Sebagai Fasilitator
Guru sebagai fasilitator bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka.
Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki tujuh sikap seperti yang diidentifikasikan Rogers berikut ini.
1. Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya, atau kurang terbuka.
2. Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya.
3. Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif bahkan yang sulit sekalipun.
4. Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pembelajaran.
5. Dapat menerima balikan, baik yang sifatnya positif maupun negatif, dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya.
6. Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran, dan
7. Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.
Sebagai seorang guru tidak hanya bertugas untuk mengajar dan memahami materi pelajaran yang akan diberikan, namun guru juga harus memahami keadaan peserta didik. Beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik antara lain: kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga dan kegiatannya di sekolah.
B. Guru sebagai Motivator
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
1. Teori Motivasi dari Maslow
Kebutuhan dasar yang dikatakan Maslow sebagai bertata jenjang (hierarki) ada lima yaitu:
a. Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri
b. Kebutuhan untuk Dihargai
c. Kebutuhan untuk Diakui
d. Kebutuhan akan Rasa Aman
e. Kebutuhan Psikologis
Dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran, teori Maslow ini dapat digunakan sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti mengapa:
a. Peserta didik yang lapar, sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki motivasi untuk belajar.
b. Peserta didik lebih senang belajar dalam suasana yang menyenangkan.
c. Peserta didik yang merasa disenangi, diterima oleh teman atau kelompoknya akan memiliki minat belajar yang lebih dibanding dengan peserta didik yang diabaikan atau dikucilkan.
d. Keinginan peserta didik untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama.
2. Cara Membangkitkan Nafsu Belajar
Berdasarkan teori motivasi di atas terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan nafsu belajar peserta didik, antara lain:
a. Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya.
b. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui tujuan belajar.
c. Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi, dan hasil belajarnya.
d. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
e. Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta didik.
f. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual peserta didik
g. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik tersebut.
Dede Suryadi mengemukakan ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar dapat membangkitkan motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1) Memperjelas tujuan yang ingin dicapai,
2) Membangkitkan minat siswa,
3) Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,
4) Memberi pujian yang wajar terhadap keberhasilan siswa,
5) Memberikan penilaian yang positif,
6) Memberi komentar tentang hasil pekerjaan siswa, dan
7) Menciptakan persaingan dan kerja sama.
C. Guru sebagai Pemacu
Sebagai pemacu belajar guru harus mampu melipat gandakan potensi peserta didik dan mengembangkan sesuai dengan aspirasi dan cita-cita mereka. Guru harus memahami bahwa setiap orang memerlukan bantuan orang lain dalam perkembangannya tidak terkecuali peserta didik yang memerlukan bantuan.
Guru juga harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut.
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreatifitas.
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan.
D. Guru sebagai Pemberi Inspirasi
Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru.
Untuk itu guru harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik, agar dapat memberikan inspirasi, membangkitkan nafsu, gairah dan semangat belajar. Iklim belajar yang kondusif merupakan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses belajar. Lingkungan yang kondusif antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut.
1. Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
2. Memberikan pembelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah.
3. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal.
4. Menciptakan kerjasama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain.
5. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran.
6. Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator, dan sebagai sumber belajar.
7. Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri sendiri.
Sebagai pemberi inspirasi, guru juga dapat memerankan dirinya sebagai pembawa ceritera. Dengan ceritera-ceritera yang menarik diharapkan dapat membangkitkan berbagai inspirasi peserta didik. Sebagai pendengar, peserta didik dapat mengidentifikasi watak-watak pelaku yang ada dalam ceritera, dapat secara objektif menganalisa, menilai manusia, kejadian-kejadian dan pikiran-pikiran.
REFERENSI
E. Mulyasa, M.Pd, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007, hal. 53.
Prof. Dr. H. Buchari Alma, M.Pd. dkk, Guru Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar), Bandung: Alfabeta, 2008, hal. 149-150.
Drs. Dede Suryadi, Guru Sebagai Motivator Siswa, 11 Februari 2010. bataviase.co.id
On 12:34 PM by pepen supendie
Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Guru
Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Guru
Tugas utama seorang guru diantaranya adalah menciptakan suasana atau iklim proses pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat (Djamarah, 1997: 1).
Menurut Rosmali (2005), tugas seorang guru itu mencakup beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan, dan bidang kemasyarakatan.
1). Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih :
a. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan.
b. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
2). Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadi dirinya sebagai orangtua kedua. Guru harus mampu menarik simpati sehingga guru tersebut menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam belajar. Apabila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah guru tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para siswanya. Para siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik.
3). Sedangkan masyarakat telah menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukkan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila (Usman, 1998: 7).
Jadi tugas guru yang dimaksud adalah tugas yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas, dan dalam bentuk pengabdian. Sehingga keberadaan guru merupakan faktor yang tidak mungkin digantikan oleh komponen mana pun dalam kehidupan bangsa sejak dahulu, karena keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa di tengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang semakin canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan diri.
Peters dikutip Sudjana (2002:15), menyebutkan tugas dan tanggung jawab guru, yaitu:
a) guru sebagai pengajar,
b) guru sebagai pembimbing, dan
c) guru sebagai administrator.
Ketiga tugas guru di atas merupakan tugas pokok profesi guru. Dimana guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Sedangkan guru sebagai administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya.
Tanggung jawab guru menurut Hamalik (2004: 127), yaitu sebagai berikut:
Guru harus menuntut murid-murid belajar
Tanggung jawab guru yang terpenting adalah merencanakan dan menuntut murid-murid melakukan kegiatan-kegiatan belajar guru mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
Turut serta membina kurikulum sekolah
Sesungguhnya guru merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid.
Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah)
Memompakan pengetahuan kepada murid kiranya bukan pekerjaan yang sulit. Tetapi membina siswa agar menjadi manusia berwatak (berkarakter) sudah pasti bukan pekerjaan yang mudah. Mengembangkan watak dan kepribadiannya, sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap, cita-cita, berpikir dan berbuat, berani dan bertanggung jawab, ramah dan mau bekerja sama, bertindak atas dasar nilai-nilai moral yang tinggi, semuanya menjadi tanggung jawab guru.
Memberikan bimbingan kepada murid
Bimbingan kepada murid agar mereka mampu mengenal dirinya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mampu menghadapi kenyataan dan memiliki stamina emosional yang baik, sangat diperlukan.
Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.
Menyelenggarakan penelitian
Sebagai seorang yang bergerak dalam bidang keilmuan (scientist) bidang pendidikan maka ia harus senantiasa memperbaiki cara bekerjanya.
Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
Guru tidak mungkin melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jikalau guru tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap.
Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila
Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang mendasari sendi-sendi hidup dan kehidupan nasional, baik individu maupun masyarakat kecil sampai dengan kelompok sosial yang terbesar termasuk sekolah.
Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
Guru bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang baik. Pengertian yang baik adalah antara lain memiliki rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa.
Turut menyukseskan pembangunan
Pembangunan adalah cara yang paling tepat guna membawa masyarakat ke arah kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Pembangunan itu meliputi pembangunan dalam bidang mental spiritual dan bidang materiil.
Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru
Bertitik tolak dari tanggung jawab guru yang telah dikemukakan di atas maka dengan demikian guru sangat perlu meningkatkan peranan dan kemampuan profesionalnya. Tanpa adanya kecakapan yang maksimal yang dimiliki oleh guru maka kiranya sulit bagi guru tersebut mengemban dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya.
Wijaya dkk. (1994:9), menyebutkan beberapa tanggung jawab yang memerlukan sejumlah kemampuan yang lebih khusus dari seorang guru, yaitu:
Tanggung jawab moral adalah setiap guru harus memiliki kemampuan menghayati perilaku dan etika yang sesuai dengan moral Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah adalah setiap guru harus menguasai cara belajar-mengajar yang efektif, mampu membuat satuan pelajaran, mampu dan memahami kurikulum dengan baik, mampu mengajar dikelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat, menguasai teknik-teknik pemberian bimbingan dan layanan, mampu membuat dan melaksanakan evaluasi dan lain-lain.
Tanggung jawab guru dalam bidang kemasyarakatan adalah turut serta menyukseskan pembangunan dalam bidang kemasyarakatan, untuk itu guru harus mampu membimbing, mengabdi kepada dan melayani masyarakat.
Tanggung jawab guru dalam bidang keilmuan, yaitu guru selaku keilmuan bertanggung jawab dan turut serta memajukan ilmu, terutama ilmu yang telah menjadi spesialisasinya dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.
Menurut Imam Al-Ghazali (t.t.:55-58) bahwa kode etik dan tugas-tugas guru adalah sebagai berikut :
1) kasih sayang kepada peserta didik dan memperlakukannya sebagai anaknya sendiri
2) meneladani Rasulullah sehingga jangan menuntut upah, imbalan maupun penghargaan
3) hendaknya tidak memberi predikat atau martabat kepada peserta didik sebelum ia pantas dan kompenten untuk menyandangnya dan jangan memberi ilmu yang samar sebelum tuntas ilmu yang jelas
4) hendaknya mencegah peserta didik dari akhlak yang jelek (sedapat mungkin) dengan cara sindiran dan tidak tunjuk hidung
5) guru yang memegang bidang studi tertentu sebaiknya tidak menjelek-jelekkan atau meremehkan bidang studi yang lain
6) menyajikan pelajaran kepada peserta didik sesuai dengan taraf kemampuan mereka
7) dalam menghadapi peserta didik yang kurang mampu, sebaiknya diberi ilmu-ilmu yang global dan tidak perlu menyejikan detailnya
8) guru hendaknya mengamalkan ilmunya, dan jangan sampai ucapannya bertentangan dengan perbuatannya.
Menurut Abdurrahman Al-Nahlawi (1979:154-159) bahwa sifat-sifat guru muslim adalah sebagai berikut :
1) hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola pikir guru bersifat Rabbani (Q.S. Ali Imron, 79)
2) ikhlas, yakni bermaksud mendapatkan keridhaan Allah, mencapai dan menegakkan kebenaran
3) jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, dalam arti menerapkan anjurannya pertama-tama pada dirinya sendiri karena kalau ilmu dan amal sejalan maka peserta didik akan mudah meneladaninya dalam setiap perkataan dan perbuatannya
4) sabar dalam mengajarkan berbagai ilmu kepada peserta didik
5) senantiasa membekali diri dengan ilmu dan bersedia mengkaji dan mengembangkannya
6) mampu menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi, menguasanya dengan baik, mampu menentukan dan memilih metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan situasi belajar mengajar
7) mampu mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak dan meletakan segala masalah secara profesional
8) mempelajari kehidupan psikis peserta didik
9) tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola pikir peserta didik
10) bersikap adil diantara para peserta didik.
Medley, sebagaimana dikutip oleh Noeng Muhadjir (1987:107-109) telah melacak sejarah penelitian tentang efektivitas keberhasilan guru dalam menjalankan tugas kependidikannya, yang dibagi menjadi empat fase.
Pada fase pertama, seorang mengasumsikan efektivitas guru/pendidik berdasarkan kepribadiannya. Persepsi orang pada fase tentang guru yang baik, dapat dijadikan suri tauladan dalam kehidupan di sekolah dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Fase kedua, orang mengasumsikan bahwa efektivitas guru terletak pada metode mengajarnya yang baik sehingga usaha penelitian terarah pada usaha eksperimentasi metode.
Fase ketiga, efektivitas guru dilihat pada yang dikerjakan guru dalam belajarnya siswa, yang fokusnya diarahkan kepada pola tingkah laku yang stabil, pada teaching styles, dan pada dimension of classroom climate.
Fase keempat, mengasumsikan bahwa efektivitas guru tergantung pada kompetensinya.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa ada beberapa kemampuan dan perilaku yang perlu dimiliki oleh guru, yang sekaligus merupakan profil guru yang diharapkan agar dalam menjalankan tugas-tugas kependidikannya agar dapat berhasil secara optimal. Profil tersebut pada intinya terkait dengan aspek personal dan profesional dari guru. Aspek personal menyangkut pribadi guru itu sendiri, yang menurut pendapat para pakar tersebut di atas selalu ditempatkan pada posisi yang utama. Aspek personal ini diharapkan dapat memancar dalam dimensi sosialnya, dalam hubungan guru dengan peserta didiknya, teman sejawat dan lingkungan masyarakatnya, karena tugas mengajar dan mendidik adalah tugas kemanusiaan. Dan aspek profesional menyangkut peran profesi dari guru, dalam arti dia memiliki kualifikasi profesional sebagai seorang guru.
Perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kompetensi atau kemampuan yang disaratkan untuk memangku profesi tersebut. Kemampuan dasar yang dimaksud adalah kompetensi guru.
Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas guru dalam proses belajar-mengajar meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan, dan bidang kemasyarakatan. Sedangkan tanggung jawab guru adalah menuntut siswa untuk giat belajar, melakukan pembinaan dan bimbingan dan lain-lain.
Untuk itu guru harus memiliki kecakapan dalam membimbing peserta didik. Di dalam mengajar akan lebih berhasil kalau disertai dengan kegiatan bimbingan yang banyak berpusat pada kemampuan intelektual, guru perlu memiliki pengetahuan yang memungkinkan dapat menetapkan tingkat perkembangan setiap anak didiknya, baik perkembangan emosi, minat dan kecakapan khusus maupun dalam prestasi fisik dan sosial.
Dengan demikian tugas dan tanggung jawab guru tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia tidak terikat oleh keterbatasan jam dan kelas untuk mendidik. Karena proses belajar tidak hanya dilakukan di sekolah namun dibutuhkan di lingkungan untuk membentuk karakter dan kepribadian siswa, atau sekurang-kurangnya dapat membentuk landasan yang berarti untuk bekal siswa selanjutnya.
On 11:53 AM by pepen supendie
On 10:15 AM by pepen supendie
Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk siswa SD hingga SMA sederajat di Jawa Barat baru tersalurkan untuk 102 ribu pelajar atau 4 persen. Penyaluran yang masih minim itu beda tipis dengan persentase nasional sebesar 5 persen.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wahyudin Zarkasi mengatakan, total penerima BSM di Jawa Barat sebanyak 2,4 juta siswa, dan sekitar 60 persennya untuk siswa SD. Sampai kini, baru 102 ribu siswa yang mendapatkan. "Pendataan siswa masih jalan, bank juga masih mengumpulkan buku tabungan baru," ujarnya, Selasa, 3 September 2013.
Menurut Wahyudin, target penyaluran BSM tersebut akan digenjot pada September hingga Oktober mendatang. Salah satu caranya lewat spanduk di kantor pos tempat pengambilan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). "Nanti kalau masih tersisa dananya, akan dialokasikan ke siswa miskin yang keluarganya belum punya KPS (Kartu Perlindungan Sosial)," ujarnya.
Pemerintah menetapkan BSM untuk siswa SD sebesar Rp 450 ribu, SMP Rp 750 ribu, dan pelajar SMA-SMK Rp 1 juta. Dana itu kembali ditambah masing-masing sebesar Rp 200 ribu, dan berlaku untuk biaya personal selama setahun. Untuk akademik, siswa dibantu dana Bantuan Operasional Sekolah.
Khusus untuk siswa SMA dan SMK di Jawa Barat, kata Wahyudin, provinsi menambah duit BSM lewat dana pendamping sebesar Rp 200 ribu untuk SMA dan Rp 300 ribu bagi pelajar SMK. Sebanyak 13 kota dan kabupaten juga ikut memberi uang tambahan dari APBD, berkisar Rp 850 ribu hingga Rp 2 juta lebih. "Misalnya di Kabupaten Banjar, Karawang, dan Cirebon. Komitmen daerah itu memang kuat," ujarnya.
Adapun menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, penyebab kurang cepatnya dana BSM sampai ke siswa miskin karena terjadi perubahan pola pembagian. Sebelumnya, sekolah yang aktif mengusulkan siswa miskin. "Sekarang, orang tua harus lapor ke sekolah membawa KPS dan kartu keluarga," kata dia di Bandung, Selasa, 3 September 2013. Kemungkinan, ujar dia, perubahan pola itu belum banyak diketahui warga miskin.
Setelah orang tua melapor, sekolah selanjutnya akan mengirim data siswa ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah disetujui, penyaluran dana diberikan lewat rekening bank pembangunan daerah. "Uangnya bisa diambil semua dan bebas dipakai untuk apa saja," kata dia.
Musliar mengatakan, dari total 16,6 juta siswa miskin dengan dana BSM senilai total Rp 6,2 triliun, yang terserap baru 5,2 persen. Pemerintah menargetkan penyaluran dana BSM bisa tuntas pada Oktober mendatang.
On 9:26 AM by pepen supendie
SMK Bina Siswa 1 Gununghalu sesuai dengan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2013/2014 akan menyelenggarakan Ujian Tengah Semester Genap yang Insya Allah akan dilaksanakan pada :
Hari : Senin-Sabtu
Tanggal : 10 - 15 Maret 2014
Tempat : Kampus SMK Bina Siswa 1 Gununghalu
Bagi siswa yang sudah melunasi biaya administrasi sudah dapat mengambil KARTU PESERTA UTS Semester Genap di Kantor Tata Usaha SMK Bina Siswa 1 Gununghalu pada Jam Kerja.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi SMK Bina Siswa 1 Gununghalu.
KURIKULUM SMK BINA SISWA 1 GUNUNGHALU
On 9:30 AM by pepen supendie
Subscribe to:
Comments (Atom)
Search
Powered by Blogger.
Kepala Sekolah
Kurikulum BINSIS
Kesiswan BINSIS
Sarana BINSIS










